Gue sering banget kehilangan—atau setidaknya kelupaan membawa—buku catatan. Mungkin ini udah jadi default setting manusia pas memasuki kepala tiga: serba pelupa. Jadi, let’s make this blog a safety zone for all of my thoughts and feelings again.
Sama kayak kebanyakan anak muda lainnya, pada dasarnya gue emang suka content creation. Bayangin aja: waktu tren blogging naik, gue bikin blog. Pas Instagram lagi hype, jelas gue join komunitas fotografi. Walaupun agak terlambat main TikTok, eventually gue download juga di handphone. Ketertarikan berkembang jadi hobi, dan hobi berubah jadi side job. I really enjoyed it.
Tapi, sifat realistis ini bikin gue ragu buat memaksakan side job tersebut jadi sesuatu yang besar. Alhasil, ritme bikin konten gue jadi on-off. Mungkin gak banyak orang tahu kalau bikin konten itu selalu butuh modal—meski gak selalu mahal. Berhubung gue selalu berusaha menjaga keseimbangan hidup, logika gue bilang: no high risk. Jadi, ya kalau gak ada modal ya gak bikin konten.
Sampai akhirnya gue sadar, udah banyak banget orang yang berhasil merubah nasib lewat bikin konten. So I thought, why not give it a shot?
Pengalaman beberapa tahun mengeksplorasi industri media sosial ngajarin gue satu hal: segalanya harus dimulai dari konsistensi di satu sektor, atau yang sering disebut niche. Setelah melakukan riset plus-minus dari semua konten yang pernah gue buat, gue mantap memilih niche: properti. Gue merasa ada banyak hal yang bisa dieksplorasi di dunia ini. New world, new knowledge. Mantap kali yekan. Tapi gue sering ngerasa, gue tipe orang yang suka learning by doing—karena belajar dari kesalahan sendiri jauh lebih efektif buat berkembang.
Menurut pemahaman gue, pada dasarnya konten adalah 'alat' untuk promosi, membangun awareness, dan memberikan edukasi. Makanya, gue selalu membangun konten tanpa arah negatif—always looking for the positive aspects tanpa ada unsur pembohongan publik.
Gue juga sadar, tipe konten yang lagi gue bangun ini butuh kolaborasi. Gue butuh bermitra dengan para pemilik properti. That's why gue selalu minta izin sebelum proses syuting dimulai. Beberapa teman di industri media sosial ada banget kasih saran buat gak perlu terlalu formal: langsung rekam dan post aja. Tapi menurut gue, langkah itu kurang etis.
So, I started a new account, executed the concept, and handled everything myself. I invested my gear and time into this project, and I had a great start in the beginning—sampai akhirnya, tantangan itu datang. Hahaha
Jadi pada dasarnya, gue membantu properti yang mau dijual atau disewakan supaya lebih dikenal dan high-visibility lewat konten. Agak kerasa kayak sales atau broker sih, hahaha. But honestly, I don't care. Gue sendiri memang belum merasa jadi sales pro karena masih butuh banyak belajar. Mungkin gue perlu ambil sertifikasi dulu sebelum bisa dengan bangga bilang ke diri sendiri kalau gue seorang sales pro.
Anyway, gue udah coba bikin konsep yang bisa ngasih impact positif buat semua pihak dan bikin bisnis mitra kolaborasi gue makin terangkat. Prosesnya: gue riset, bikin daftar properti yang mau dijual/disewa, double check keakuratan informasi, lalu kirim permintaan izin.
And yep, rejections hit.
Sebetulnya gue udah memprediksi kalau penolakan itu pasti ada. Jangankan urusan kerjaan, ditolak cinta aja pernah, hahaha. Tapi jujur, gue baru tahu kalau penolakan di dunia ini bisa sesarkatis itu dan bikin lumayan mental breakdown. Ini bener-bener pengalaman baru buat gue.
Dari sudut pandang gue, gak ada unsur yang merugikan sama sekali. Justru apa yang gue lakukan bisa dimanfaatkan oleh para property owner sebagai media promosi tambahan. Impact gue mungkin belum sebesar influencer atau artis ibukota, but at least opsi media promosinya bertambah satu. And who knows? Bisa aja ada penonton yang nyangkut lalu tertarik. Gue emang gak bisa janjiin angka penonton yang fantastis, but at the very least, gue selalu berusaha bikin konten sebagus dan seserius mungkin.
Honestly, gue sempat speechless banget waktu dapat penolakan yang lumayan keras—seolah-olah apa yang gue lakukan ini murni cuma buat keuntungan pribadi tanpa mereka mau lihat value positif yang coba gue tawarkan. Tapi di sisi lain, gue juga merasa perlu introspeksi diri. Kalau emang ada sudut pandang atau dampak negatif yang gak sengaja timbul dari langkah gue ini, please let me know so I can reflect on it. I can stop anytime.
Gue bakal cari niche lain yang jauh lebih positif tanpa merugikan siapa pun.
So far, gue memutuskan buat gak patah semangat. Meskipun gak sedikit yang nolak, nyatanya masih banyak owner yang mengapresiasi tawaran kolaborasi ini. Bahkan banyak banget yang luar biasa baik selama proses syuting.
Keramahan para owner ini gak cuma bikin gue makin semangat buat bantu promoin properti mereka, tapi juga bikin gue tulus berdoa supaya properti mereka cepat laku atau ketemu penyewa yang tepat.
Yak. Begitulah keluh kesah anak baru, gaes. mohon dimaafkan jika ada salah pilih kata. namanya juga curhat aje saya mah biar plong. hehehe.
in this economy, semoga kita semua tambah kaya
salam cuan :)
















































